KETIDAKPASTIAN

Setiap orang yang terlahir ke Dunia ini pasti mengingkan kehidupan yang layak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tidak ada seorang manusia yang ingin hidup menderita dan sengsara, semuanya pasti mendambakan kehidupan yang sejahtera dan sentosa. Harapan untuk hidup sesuai dengan standar kemanusiaan seringkali membuat orang untuk bekerja keras dan mempunyai impian yang tinggi. Ada yang bercita-cita sebagai guru, dokter, pengusaha dan berbagai profesi idaman lainnya.
Namun ketika harapan yang diinginkan tidak sesuai dengan realita yang terjadi maka akan menimbulkan gangguan pada pribadi yang bersangkutan sebagaimana kisah Dani yang akan kita ceritakan pada postingan kali ini.
Dani adalah sosok pemuda yang tumbuh di Lingkungan yang asri di bawah kaki gunung nan tinggi. Ia terlahir dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang buruh biasa dan ibunya hanyalah ibu rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sang ayah harus banting tulang dan peras keringat. Memikul padi orang di sawah, pergi menanam padi dan berbagai pekerjaan lainnya yang membutuhkan tenaga ekstra. Watak antara ibu dan ayah Dani sangatlah kontras berbeda. Ibunya mempunyai watak yang keras dengan celotehannya yang banyak, sedangkan ayahnya lebih pendiam, bijak dan sabar. Perbedaan karakter ini membuat Dani lebih cenderung menyayangi ayahnya dibandingkan ibunya.
Dani dididik oleh ibunya dengan sangat keras. Dani sering dipukuli sewaktu kecilnya. Akibat sering dipukuli, Dani pun mengalami trauma akan masa kecilnya. Ia kini tumbuh menjadi pemuda yang penuh dengan ketakutan, sifat pengecut dan ketidakpastian. Dani menjadi seorang pemuda yang plin-plan. Tidak pernah bisa konsisten dengan apa yang ia inginkan dan sangatlah mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain.
Apa yang Dani cita-citakan tidak pernah terwujud karena ia adalah pemuda yang cepat putus asa dan mudah dipatahkan dengan keadaan. Ketika ada benturan maka ia cepat sekali menyerah dan tidak mempunyai semangat untuk bangkit. Sebenarnya Dani adalah sosok anak yang pintar ketika masih duduk di bangku SMA. Ia selalu mendapatkan juara 1 di sekolahnya.
Melihat prestasi yang diraih Dani, sang ibu pun menaruhkan harapan yang tinggi kepada Dani supaya bisa merubah keadaan ekonomi keluarganya dan mengangkat derajat dan martabat keluarganya dimata masyarakat desanya. Harapan yang tinggi dari Ibunya ini justru membuat Dani makin takut menghadapi masa depan. Ia takut kalau apa yang telah diharapkan oleh orang tuanya tidak bisa ia wujudkan.
Waktu berlalu, bukannya membahagiakan orang tuanya justru Dani mengecewakan kedua orang tuanya. Dani telah terjerumus kedalam bisnis online yang membuatnya kehilangan rasa kemanusiaannya. Kerugian besar yang ia dapatkan dari bisnis online tersebut membuat rasa percaya dirinya sirna, memupuk mentalitas hidup yang buruk, sampai keputusasaan yang hampir berujung bunuh diri. Kini, Dani menjadi pemuda yang penuh dengan ketidakpastian dan kemunafikan. Setiap harinya selalu dilewati dengan sembunyi dan tidak berani menghadapi masalah yang telah diakibatkan oleh perbuatannya sendiri.
Dani lari dari kenyataan hidup yang membelitnya. Ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya dan mencoba peruntungan hidup di Kampung orang. Ia lari meninggalkan semua hutangnya, lari meninggalkan semua keluarga, teman dan orang-oarang yang ia cintai. Dani hidup dalam kesepian di tengah hutan belantara. Ia berusaha mencari pekerjaan disebuah perusahaan kayu di Daerah Kalimantan.
Dani berusaha adaptasi di daerah yang baru dan berusaha untuk membangun kembali rasa percaya dirinya. mencoba bangkit dari keterpurukan. Tapi sayangnya bukan perbaikan yang ia dapatkan melainkan keterpurukan yang lebih dalam lagi. Kini tidak ada lagi harapan dalam hidup Dani. Tidak ada teman, sahabat keluarga bahkan orang yang dicintai sudah hilang semuanya.
Kini Dani hidup dalam ketidakpastian. Semua impian dan harapannya telah sirna bagaikan debu di batu yang licin yang telah disapu oleh hujan. Dani hidup tanpa tujuan, hanya menjalani hari yang kosong tanpa arti. Satu-satunya yang ia miliki dalam hidup ini adalah Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan menciptakannya untuk sebuah rencana. Rencana yang ia sendiri belum mengetahuinya. Dani percaya bahwa setiap yang terjadi di dunia ini sesuai dengan kehendak yang Maha Kuasa.
Perlahan ia mulai membangkitkan rasa kepercayaan dirinya yang telah hilang. Semakin ia mencoba bangkit demikian juga ia terjatuh kembali disebabkan oleh sifatnya yang masih labil. Dani belum menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Ia terus mencari dan mencari siapa dirinya yang sebenarnya. Ia mencoba bertanya kepada Tuhan, tapi belum juga mendapatkan jawaban.
Hari demi hari telah Dani lewati tanpa semangat dan hanya mengisi kekosongan hari dan waktu yang ia miliki. Tidak ada perubahan dalam hidupnya, ia terus terpuruk dalam jurang kehinaan. Terperanjat dalam siklus yang tidak menentu. Semuanya penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada secercah harapan yang bisa diikuti untuk membuatnya bangkit kembali menemukan jati diri yang sebenarnya. Sayangnya semua itu hanyalah angan-angan kosong yang tidak pernah mampu ia wujudkan. Bahkan untuk berkomunikasi dengan orang lain saja ia tidak mampu, hanya memilih diam dan memendam segala gundah yang ia miliki.
Dani tidak yakin akan hidupnya. Ia sepenuhnya tidak yakin bisa berubah menuju arah yang lebih baik. Ia sadar akan kelemahan yang dimilikinya. Ia sadar akan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Keterbatasan itulah yang membuat Dani membuang semua impian dan harapannya. Harapan untuk bisa berguna bagi orang lain, membangun suatu perusahaan yang bisa membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Keinginan untuk membahagiakan orang tua dan menggoreskan senyuman di wajah orang yang dicintai.
Kini Dana hanya mengikuti aliran arus kehidupan. Entah sampai kapan ia akan terombang-ambing oleh arus ataukah ia mampu untuk melawan arus dan menemukan kembali sinar dalam hatinya yang membuatnya bangkit kembali dari keterpurukan dan berusaha kembali meraih segala impian dan cita-citanya. Semuanya hanya dia pasrahkan kepada zat Yang Maha Menentukan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Hutan Menuju kesejahteraan